Surabaya, 11 April 2026 — Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jepang Jawa Timur kembali menggelar pertemuan rutin yang dirangkaikan dengan kegiatan Halal Bihalal dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan. Kegiatan ini dilaksanakan di SMAN 10 Surabaya pada hari Sabtu, 11 April 2026, dan diikuti oleh 23 guru secara luring serta sekitar 30 guru lainnya secara daring melalui Zoom Meeting.
Acara dimulai pukul 09.30 WIB dengan pembukaan yang dipandu oleh MC, Ibu Eka Fatma Amilia, dilanjutkan dengan sambutan Ketua MGMP Bahasa Jepang Jawa Timur, Ibu Luza Qodiyanti,M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan berbagai program kerja MGMP untuk tahun 2026. Salah satu program utama yang menjadi perhatian adalah pelaksanaan Bunkasai tahun 2027 yang direncanakan akan dilaksanakan lebih awal, yaitu sekitar akhir tahun 2026. Perubahan jadwal ini menyesuaikan dengan agenda dari Japan Foundation yang lebih dulu mengadakan lomba presentasi tingkat nasional, sehingga setiap daerah diharapkan dapat menyelenggarakan seleksi sebelum ajang tersebut berlangsung.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan laporan keuangan oleh bendahara MGMP, Ibu Hesti Maiyanti, sebagai bentuk transparansi organisasi dan juga ajakan kepada seluruh anggota MGMP untuk memberikan dukungan penuh terhadap kondisi kas MGMP, serta sosialisasi penggunaan website MGMP oleh Ibu Diah Wahyuni I, guna meningkatkan efektivitas komunikasi dan kolaborasi antaranggota.
Suasana khidmat terasa saat doa dipimpin oleh Bapak Zeny Kurniawan, memohon keberkahan dan kelancaran seluruh program MGMP ke depan, terlebih dalam momentum bulan Syawal pasca Idul Fitri.
Memasuki acara inti, Bapak Dedy Aristyanto, S.S. menyampaikan materi bertajuk “Guru Bahasa Jepang dan Tantangan AI (Sensei 5.0)”. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya transformasi peran guru di era kecerdasan buatan. Guru tidak lagi sekadar penyampai materi, melainkan menjadi arsitek pembelajaran yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan nilai kemanusiaan.
Materi yang disampaikan menegaskan bahwa di era AI, guru harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan esensi sebagai pendidik yang membentuk karakter. Konsep Sensei 5.0 mengajak guru untuk:
-
Memanfaatkan AI sebagai alat bantu pembelajaran, bukan pengganti peran guru.
-
Mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) pada siswa melalui analisis, evaluasi, dan kreasi.
-
Menanamkan etika digital, kejujuran akademik, serta nilai-nilai lokal seperti gotong royong dan tepo seliro.
-
Menjaga keseimbangan antara kecanggihan teknologi dan “kokoro” (hati), karena pendidikan sejatinya adalah proses membentuk manusia seutuhnya.
Dengan demikian, teknologi hanyalah alat, sementara manusia tetap menjadi pusat pembelajaran.
Kegiatan semakin semarak dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana para peserta yang berhasil menjawab pertanyaan mendapatkan doorprize berupa buku yang dibagikan oleh Ibu Luza.
Sebagai penutup, seluruh peserta saling bersalam-salaman untuk saling memaafkan dalam suasana Halal Bihalal, dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan siang bersama yang semakin mempererat tali silaturahmi antar guru Bahasa Jepang di Jawa Timur.
Pengurus MGMP Bahasa Jepang Jawa Timur menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta, baik yang hadir secara langsung maupun daring, atas partisipasi dan semangat kolaborasi yang luar biasa.
“Semoga kebersamaan ini menjadi energi positif untuk terus berkembang dan berinovasi dalam pembelajaran. Kami tunggu kehadiran Bapak/Ibu pada pertemuan berikutnya dengan semangat yang lebih besar,” demikian pesan penutup dari pengurus MGMP.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang koordinasi, tetapi juga ruang refleksi dan inspirasi bagi para guru untuk terus bertumbuh menghadapi tantangan pendidikan di era digital.